Hal yang Paling Saya Sesali dari Kerja Online

Meskipun kerja online itu sangat menyenangkan, ada satu hal yang paling membuat saya menyesal dari kerja online. Bahkan masih saya sesali sampai sekarang!

Fresh Apple!

3 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih fresh. Ibarat buah, saya baru saja selesai dipanen. Seorang fresh graduate yang belum genap satu tahun pasca lulus kuliah.

Saking freshnya, saya terlalu polos untuk berani mencoba hal-hal baru, kerja online. Impian saya waktu itu adalah mendapatkan pekerjaan ideal, kerja kantoran. Berangkat pagi, pakai blazer, sepatu high heel, dan duduk manis di depan komputer. Kelihatannya keren gimana gitu.

Ternyata setelah saya coba, kerja kantoran tidak sekeren yang ada di pikiran saya. Pagi hari, tidak ada santainya sama sekali. Badan pegel pun, pura-pura bugar, ya  mau ga mau harus cepet-cepet mandi, siap-siap, sarapan dan mengejar absen.

Belum lagi mikirin baju kantor, yang ternyata ga seelegan yang saya bayangkan. Mungkin karena saya serba pas-pasan, mau dipakein baju kek apa juga bakal mentok, gitu-gitu aja. Apalagi make sepatu high heel, ini sepatu bukannya bikin kaki enak malah bikin bengkak. Udah deh bye, buang jauh-jauh!

Sampai suatu hari, saya merasakan kerja kantoran tidak lagi ideal buat saya, ketika kebutuhan terus meningkat dan saya perlu tambahan pendapatan.

Saya berharap memiliki pekerjaan yang lebih fleksibel. Bisa mengerjakan beberapa project sekaligus, kerja kantoran tetep jalan tapi tabungan juga bertambah. Saya pun lari ke internet!

Continue reading “Hal yang Paling Saya Sesali dari Kerja Online”

Kerja Online, Paket Internet Apa yang Paling Bagus di Wilayah Jabodetabek?

Apakah kamu sedang mencari paket internet unlimited dengan kecepatan ultra-fast yang bisa browsing dan streaming tanpa bapering? Apakah kamu sedang mencari paket internet murah yang tidak membuat dompet kamu seakan-akan bocor?

Memang, tidak ada hal yang menggembirakan dari internet selain kecepatan, sinyal kuat, harga paketnya murah dan pelayanan memuaskan. Saya pun berpikiran demikian dan saya paling tidak suka dengan koneksi internet yang lelet (Bisa naik darah kalo ngadepin koneksi internet yang macam begini).

Memutuskan menggunakan provider internet itu, ibarat memilih baju, cocok-cocokan. Saat membeli baju, pertama harus sesuai selera, selanjutnya baru berani mencoba, jika ternyata cocok, maka jadilah dibeli. Setelah dibeli, dicoba dipakai, dan ternyata nyaman, jadilah itu baju sebagai baju andalan.

Ketika membeli baju, tentunya kamu ga mau dong, begitu kelihatan menarik, langsung comot, bayar ke kasir dan selesai. Setelah nyampe rumah, yaah ternyata kekecilan atau yaah ternyata kebesaran. Pada akhirnya apa? tidak jadi dipakai sama sekali dan tertimbun diantara pakaian-pakaian dalam lemari.

Begitu juga saat memilih internet, kamu juga tidak mau kan hanya asal termakan iklan atau mbak-mbak sales yang punya jurus seribu cara sampai akhirnya kamu jadi beli?

Nah kali ini saya akan review pengalaman saya menggunakan Modem Wifi Bolt 4g dan paket internet Bolt yang selama ini saya gunakan untuk kerja online di kosan, browsing-browsing, youtube-an, streaming film di Putlocker, nonton film animasi di Kisscartoon, download ebook, dan internet harian untuk hape saya. Siapa tahu, kamu juga cocok dengan paket internet ini.

Continue reading “Kerja Online, Paket Internet Apa yang Paling Bagus di Wilayah Jabodetabek?”

Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Indonesia wilayah Depok. Kosan sudah mulai sepi. Sepertinya, anak-anak kosan juga sudah pada tidur. Apalagi ini bulan puasa, harus tidur cepet supaya bisa bangun buat sahur.

Tapi beda dengan saya, jam segitu saya masih melek. Melek serius malah, pasalnya saya masih mantengin task dari Leapforce yang lagi banyak-banyaknya. Sayang dong kalo ga dikerjain. Dalam dunia rater search engine, waktu saat task lagi ada itu sangat berharga, karena sistemnya first-come, first-served.

Sebenarnya, saya sudah mulai mengerjakan dari jam 10 malam. Biasanya saya berhenti pukul 12 malam, lanjut tidur, kemudian bangun jam 3 atau 4 pagi. Tapi karena lagi tanggung yaudah saya terusin sampai task itu selesai.

Kalau inget kejadian itu, rasanya saya pengen cepet-cepet nutup laptop dan buru-buru nutupin muka saya pake bantal. Maaf ya, maklum saya orangnya parno-an kalau ngomongin hal yang berbau mistis. (Tengok kanan kiri)

Saat itu, saya sedang asyik-asyiknya ngerating, mengingat pekerjaan saya sebagai seorang rater. Setelah klik submit, maka muncul task baru.

Mungkin karena saat itu saya juga sudah mulai mengantuk, jadi agak buram-buram gimana gitu, ga gitu jelas query atau keyword nya apa. Begitu langsung scroll…

Deggggg…..!

Continue reading “Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!”

Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?

Beberapa hari terakhir, saya menanyakan satu persatu teman-teman saya yang telah mendaftar Leapforce. Bagaimana dengan progress mereka, bagaimana dengan hasil ujiannya, apakah ada kabar bahagia?

Ternyata hampir semuanya menjawab dengan kompak, belum. Ya saya yakin, belum bukan berarti tidak akan ada kabar bahagia, hanya saja kabar bahagia itu sedang ditunda sampai tiba waktu yang tepat.

Saya pun tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian menanyakan, apa yang kira-kira membuat mereka gagal ujian. Hal ini saya lakukan untuk menarik asumsi, apa yang kurang dari strategi mereka tersebut.

Perlu diketahui, saya menulis pengalaman saya bekerja di Leapforce bukan karena promosi, affiliate marketing atau semacamnya. Tapi saya ingin mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja online. Lumayan lho bisa untuk jajan, bahkan kalo rajin mungkin bisa beli berlian, agak lebay sih.

Setelah tanya kesana kemari, sepertinya asumsi terkuat saya terkait penyebab terbesar mengapa banyak pendaftar yang gagal ujian Leapforce adalah ‘kurang kepo.’

Ini kan mau kerja bukan mau gosip kenapa harus kepo?

Tidak selamanya kepo itu diartikan negatif. Saat bekerja sebagai Search Engine Evaluator, kamu justru dituntut untuk memiliki insting kepo tingkat tinggi. Insting kepo inilah yang akan membuat kamu lebih memahami cara kerja Leapforce.

Mengapa saya menyebutnya kurang kepo? Karena biasanya, banyak pendaftar yang kurang mengeksplorasi sedetail-detailnya tentang Leapforce dan ujian kualifikasinya pada saat mengikuti ujian.

Selain mengetahui 6 hal yang wajib kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce dan strategi memanfaatkan alokasi waktu ujian, kamu juga perlu mengeksplorasi hal-hal berikut:

Continue reading “Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?”

Strategi Memanfaatkan Alokasi Waktu Ujian Leapforce Secara Efektif dan Efisien

A: Tul bisa reschedule ga sih?

B: Bisa kok, ada di poin ke empat email notifikasi kalo mau reschedule.

A: Iya, soalnya gw ga bisa tanggal segitu, tapi gw penasaran banget, pengen cepet cepet tahu gw lolos apa ga.

Ada dua hal yang perlu dihindari saat mengikuti ujian Leapforce:

1). Buru-buru

Seperti yang saya jelaskan di postingan 6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce! bahwa alokasi waktu ujian yang diberikan adalah sekitar 7 hari. Jika kamu terlalu terburu-buru karena penasaran lulus atau tidaknya, kamu bisa saja ujian di hari pertama atau kedua, dan jangan kaget ketika kamu melihat hasilnya bahwa kamu tidak lulus ujian kualifikasi.

2). Terlalu santai

Karena melihat guideline yang isinya 146 halaman, berbahasa Inggris dan materinya baru semua, kamu akan merasa hopeless dan perlu berjuang lebih lama. Kayaknya, mau baca-baca dulu deh, ujiannya nanti aja pas deadline. Nah lho, ujiannya ada tiga tahap, kalo kamu mengerjakan semua ujian itu dalam satu hari, bukan cuma stress tapi kamu juga akan mabok.

Terus, baiknya gimana?

Continue reading “Strategi Memanfaatkan Alokasi Waktu Ujian Leapforce Secara Efektif dan Efisien”

6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce!

A: Eh gimana udah jadi daftar Leapforce?

B: Udah ka, udah dapet jadwal ujiannya malah.

A: Syukurlah, kapan jadwalnya?

B: Tanggal 9 – 16 Juni ka.

A: Terus rencana kamu ujian kapan?

B: Kekna tanggal 15 Juni ka, soalnya tanggal 16 Juninya aku ada acara.

A: Haaa tanggal 15? *gue syok dan hampir pingsan.

Waah… kekna ada bagian yang kamu belum paham nih!

Mungkin setelah kamu membaca postingan saya sebelumnya, Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan, kamu begitu tertarik dan dengan sangat gesit  langsung menuju website Leapforce untuk mendaftar. Bahkan kamu tidak tanggung-tanggung mendaftar ke semua perusahaan yang menawarkan kerja online seperti Appen, Lionbridge dan iSoftStone. Bolehkah mendaftar Leapforce, Lionbridge, dan Appen secara bersamaan?

Sebelum kamu mendaftar Leapforce akan lebih baik jika kamu cari tahu sebanyak-banyaknya agar kamu memahami bagaimana proses kualifikasi menjadi search engine evaluator di Leapforce. Berikut saya akan share beberapa hal yang harus kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce, dengan begitu kamu akan lebih siap dengan proses kualifikasi selanjutnya.

Continue reading “6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce!”

Bolehkah Mendaftar Leapforce, Lionbridge, dan Appen Secara Bersamaan?

Jika ditanya, boleh tidak mendaftar sekaligus ke ketiga perusahaan yang menawarkan kerja online tersebut, tentu saja jawabannya boleh banget, tapiii….

Setelah saya memposting pengalaman saya bekerja secara online sebagai Search Engine Evaluator, Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan, beberapa teman saya ada yang menanyakan, ‘Apakah boleh mendaftar Leapforce, Lionbridge dan Appen sekaligus?’

Secara umum, boleh-boleh saja kamu mendaftar ke semua perusahaan penyedia kerja online tersebut sekaligus. Itung-itung memperbesar peluang, dimana kamu keterima disitu kamu bisa kerja, ya kan?

Sayangnya, kamu perlu ingat bahwa dalam dunia rater dan kerja online, perusahaan cenderung untuk tidak merekrut orang yang sama dalam perusahaan yang berbeda untuk mengerjakan project pekerjaan yang sama, nah lho maksudnya gimana tuh?

Continue reading “Bolehkah Mendaftar Leapforce, Lionbridge, dan Appen Secara Bersamaan?”

5 Hal yang Wajib Kamu Perhatikan Saat Tinggal Jauh dari Keluarga

Akhir-akhir ini banyak kasus pembunuhan dan bunuh diri di kalangan remaja maupun mahasiswa. Tempat kejadian perkaranya pun di kosan yang bersangkutan. Di sekitar kampus UI sudah beberapa kali ditemukan kasus serupa.

Kamis, 29 Maret 2015, Akseyna Ahad Dori, Mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UI ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI dekat Balairung. Motif tewasnya mahasiswa tersebut masih terus di dalami. Beredar kabar, mahasiswa tersebut bunuh diri, beredar juga mahasiswa tersebut dibunuh.

Pada Ahad, 28 Juni 2015, Dwi Purnama Putri alias Beki, Mahasiswi Fakultas Hukum UI ditemukan meninggal di kamar kosan karena sakit. Baru ketahuan, setelah temannya datang ke kamar kosannya karena penasaran pesan singkatnya tidak kunjung dibalas.

Dan baru-baru ini, pada Selasa Siang, 31 Mei 2016, Vinsensius Billy, ditemukan tewas di kamar kosnya karena gantung diri.

Semua kejadian diatas pasti akan membuatmu merinding ngeri. Namun disisi lain, juga ada rasa iba. Jika saja mahasiswa yang sakit punya teman dekat satu kosan yang bisa merawat saat ia sakit. Jika saja mahasiswa yang punya masalah, stress dan depresi punya tempat dan bersedia untuk berbagi, mungkin kejadian bunuh diri bisa dicegah.

Begitulah, risiko tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. Semua kegiatan, kebutuhan dan masalah harus siap dihadapi sendiri. Sendiri disini bukan berarti kamu harus benar-benar menyelesaikan masalah kamu sendirian.

Continue reading “5 Hal yang Wajib Kamu Perhatikan Saat Tinggal Jauh dari Keluarga”

Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan

A: “Atul sibuk apa sekarang?”

B: “Kerja online ka.”

A: “Oh, jualan apa?”

Ini adalah percakapan saya dengan teman saya beberapa hari yang lalu, sewaktu saya membantu sebuah project di kampus. Project ini tidak lama, hanya tiga hari, maka dari itu saya menyanggupi untuk ikut bergabung.

Saya resign dari kantor akhir Desember 2015. Meskipun saya sudah memulai untuk bekerja online sejak Agustus 2015, tetap saja, jika saya bertemu dengan kawan lama atau teman sekantor dulu, semuanya bertanya. Atul Sibuk apa?

Ya meskipun saya tidak sibuk-sibuk amat, yang jelas saya masih punya kesibukan. Kerja online. Namun jika kesibukan ini yang saya sebut, jawaban seperti diatas lah yang akan saya dapatkan. Tidak hanya sekali dua kali, tapi sering.

Di Indonesia, atau lebih sempitnya Jakarta, Depok dan sekitarnya. Kerja online mungkin memang sudah identik dengan jualan online. Meskipun kata-kata yang digunakan berbeda, banyak orang menganggapnya kurang lebih sama.

Semenjak sosial media booming sebagai sarana yang cukup efektif untuk berjualan, hampir sebagian besar isi timeline saya adalah orang jualan. Mungkin inilah yang membuat orang-orang berpikiran, bahwa kerja online adalah jualan online.

Banyak diantara kita yang belum paham benar, bahwa diluar sana banyak sekali kesempatan bekerja online secara professional. Pantas saja, pada tahun 2014 sempat trending berita soal Arfi dan Arie, lulusan SMK yang ahli design engineering international karena dikira memelihara tuyul, pekerjaan tidak jelas namun berpenghasilan luar biasa. Kedua anak itu memanfaatkan internet dan freelance website untuk menjaring klien yang akhirnya memesan design dan memberikan honor (upah) kepada mereka.

Nah, ngomong-ngomong soal kerja online, apakah kamu juga sedang mencari pekerjaan sampingan, kerja online, atau kerja apa pun yang bisa kamu kerjakan di rumah? Jika iya, maka artikel ini tepat buat kamu.

Continue reading “Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan”

Pavel Durov, Mark Zuckerberg Versi Rusia

Karena kesuksesannya bergelut di dunia sosial media, Pavel Durov sering disebut sebagai Mark Zuckberberg versi Rusia. Dibalik kesuksesannya itu, ternyata ia juga pernah dipaksa untuk keluar dari perusahaan yang ia bangun. Sekarang, ia mengembangkan aplikasi baru, Telegram Messenger yang memiliki sekitar 100 juta  pengguna. Durov juga terkenal akan lifestyle-nya yang unik: ia hanya mengenakan pakaian serba hitam, dan ia melakukan perjalan secara terus-menerus di seluruh dunia. Terkadang, ia bersama karyawannya membuang uang begitu saja dalam jumlah  yang fantastis dari jendela kantornya.

Continue reading “Pavel Durov, Mark Zuckerberg Versi Rusia”