Shinjuku Gyoen, Pertama Kalinya Lihat Full Bloom Sakura

Melihat full bloom sakura adalah dambaan setiap traveler saat spring trip ke Jepang. Baiknya, jauh-jauh hari sebelum memesan tiket keberangkatan, kamu cek terlebih dahulu sakura forecast di Jepang kemungkinan akan full bloom di tanggal berapa dan bulan apa.

Meskipun sudah mengecek sakura forecast 2017, ternyata banyak pohon sakura yang belum mekar setibanya saya di Jepang, 20-30 Maret 2017. Padahal, hampir sebagian besar destinasi wisata Jepang berupa taman. Sayang banget kan kalo berkunjung ke taman tapi ga ketemu sama si sakura ini.

Saran saya buat kamu yang ingin spring trip ke Jepang. Pergilah di awal April, yaitu antara 1-15 April. Pada tanggal tersebut hampir semua titik sakura sudah full bloom.

Baiklah, kembali ke cerita saya sebelumnya. Akhirnya saya dan teman saya pun was-was, kalo-kalo kita ga melihat sakura mekar satu biji pun. Yah mau bagaimanapun juga, misi wisata ke taman harus tetap dijalankan.

Pertama, kita berkunjung ke taman di samping Sumida River. Waktu itu sedang hujan dan langit mendung pun menambah suasana sendu begitu kita tiba di lokasi bunganya belum mekar. Ada banyak sekali pohon sakura berjejer di sepanjang tepian sungai tapi semuanya baru puber aka masih kuncup. Kita pun tetap berjalan menyusuri sungi sampai nemu satu pohon sakura yang setengah mekar di samping cafe. Alhamdulillah. Karena satu pohon, wisatawan yang ingin berfoto pun antri. Ingat ya disana berfoto pun rapi dan rajin antri ga rebutan yang justru bisa merusak si pohon.

Kedua, karena ga mau diphp lagi, kita memilih searching lewat instagram terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi, taman mana yang sudah ada full bloom sakuranya. Mengapa melalui instagram? Karena instagram jauh lebih cepat updatenya ketimbang Google yang kebanyakan resultsnya adalah website atau blog yang cenderung lebih lama updatenya. Akhirnya pergilah kita ke Yoyogi Park dan berlanjut ke Shinjuku Gyoen National Garden.

Continue reading “Shinjuku Gyoen, Pertama Kalinya Lihat Full Bloom Sakura”

Pengalaman Rental Wifi Wi2fly 11 Hari untuk ke Jepang

Rental wifi wi2fly, mungkin bagi kamu yang sering bepergian keluar negeri nama ini tidak asing lagi. Tapi bagi saya masih kedengeran asing, apalagi namanya yang agak susah disebut buat lidah jawa kek saya :p.

Memiliki koneksi internet ketika kamu berada di luar negeri memang penting misalnya untuk mencari lokasi wisata, nearby halal restaurant,  shopping area, rute perjalanan, jadwal kereta dan lain sebagainya. Meskipun ya memang, internet bukanlah sebuah keharusan, toh kamu masih bisa survive kok tanpa internet, ciusan.

Buat kamu yang berniat rental travel wifi, berikut pengalaman saya rental wifi wi2fly untuk ke Jepang selama 11 hari (20-30 Maret 2017). Siapa tahu postingan saya ini bisa menginspirasi kamu menentukan rental wifi mana yang sesuai budget kamu.

Continue reading “Pengalaman Rental Wifi Wi2fly 11 Hari untuk ke Jepang”

Apply Visa Jepang: 10 Hal yang Harus Kamu Perhatikan

-Balada Drama Apply Visa Jepang-

Tik tok Tik Tok

Masukin tas, keluarin lagi, masukin saku, keluarin lagi, akhirnya saya pegang!

Ya, itulah hape saya. Berkali-kali saya melihat ke arah jam digital yang terpampang lebar dilayar. “Duh gimana ini, sudah jam segini, ” batin saya sembari memperhatikan angka 2.45 yang tercetak sangat jelas, ibarat tulisan, udah pake huruf kapital, bold, italic, di underline pula.

Kebetulan saat itu dapet abang ojek yang baik, saking baiknya, motor melaju dengan santai dari arah Stasiun Cikini ke Jalan Thamrin. “Bang bisa agak cepetan gak ya?” Sebenernya pengen banget ngomong ini tapi ga tega takut dibilang kaya yang di meme-meme itu, “kalo mau cepet-cepet berangkat dari kemarin mbak” *kan ga lucu. Mau gimana lagi, karena ga enakan akhirnya cuma bisa duduk was was di jok belakang 😦

Jadi ceritanya, hari Selasa, 7 Februari 2017 lalu saya mau ke Kedubes Jepang di Jalan MH Thamrin No.24, Menteng, Jakarta, buat ambil visa.

Salah sayanya juga sih berangkatnya mepet. Udah tahu jam pengambilan visa mulai dari 13.30-15.00, eh saya baru siap siap jam 13.30. Pas baru kelar dress up tiba-tiba ujan deres. Akhirnya pun nunggu sekitar 15 menit. Begitu ujan reda, sekitar pukul 14.00 WIB, saya pun langsung ngacir ke stasiun. Udah perginya mepet, mana baru inget pula kalo ojek ga bisa lewat depan kantor Kedubes Jepang haish…

Singkat cerita, saya turun dari ojek di depan Grand Hyatt dan jalan cepat menuju gedung Kedubes Jepang. Akhirnya saya sampai di kedubes Jepang pukul 14.57. Bayangin dong 3 menit lagi, 3 menit maak. Mana masih ngos-ngosan udah langsung disamperin satpam.

“Mbak mau kemana Mbak?”

“Pak mau ambil visa, masih bisa ga ya pak?”

“Ayo cepet-cepet udah mepet ini” tanpa ba bi bu langsung saya disuruh cepet-cepet masuk.

Begitu saya mau nyerahin KTP buat dituker kartu masuk, bapaknya ngliat jam dulu, ‘Ayo mbak cepet, udah mau ditutup’. Saya pun makin dag dig dug. Dengan tergopoh-gopoh napas masih naik turun, saya masuk, melewati pemeriksaan lalu ambil antrian.

Fyuuuh sampe juga. Saya pun langsung duduk di bangku yang masih kosong. Deg! dan mendadak saya deg-degan lagi. Bukan karena ngeliat cowok ganteng yang senyum senyum dipojokan, bukan. Tapi lebih penting dari itu.

Ya ampuun, saya lupa ambil duit, lha piye iki, mau bayar visa pake apa wkwkkwkwk saya pun pengen ketawa miris.

Saya coba keluar ruangan, tanya satpam dan ternyata di gedung itu tidak ada ATM, adanya di gedung sampingnya yaitu Plaza Indonesia. Saya pun langsung ngacir keluar berusaha dorong-dorong pintu yang ga mau kebuka karena memang ga sembarangan buat keluar masuk. Ga peduli samping saya ada antrian mengular orang tukar kartu masuk dengan KTP buat keluar.

“Mbak KTP nya dituker dulu” ujar salah satu pemuda dibaris paling depan

“Mbak mau kemana mbak?” satpam juga bertanya, ga mau ketinggalan

“Saya mau ke ATM bentar pak”

“Gak bisa mbak, kita udah mau tutup, mbak coba ijin sama loket dulu, nanti loket telp kemari baru saya buka kan pintunya”

ealaah…

Saya pun kembali masuk dan bertanya pada petugas loket yang pada akhirnya saya disuruh dateng lagi besok. Hadeuh, sia-sia dong perjuanganku hari ini wkwkkwkw. Saya coba screening orang-orang sekitar yang kira-kira memiliki aura baik dan bisa dipinjemin sementera. Sayangnya ga ada, duh mau pinjem duit dulu ama sapa coba?

Continue reading “Apply Visa Jepang: 10 Hal yang Harus Kamu Perhatikan”

New Opportunity at Appen: Social Media Evaluator Project 2016

Beberapa minggu lalu saya mendapat kabar dari beberapa teman saya yang menerima email undangan untuk join project baru Appen. Hari ini saya juga mendapat email dari mereka.

Ada dua email yang saya terima, pertama email umum yang berisi ajakan untuk apply dan kedua email ralat dan additional questioner (sepertinya mereka baru menyadari dulu saya pernah apply di Appen).

Saya pernah join project Social Media Evaluator Appen tahun lalu, kerjaannya lebih gampang dibanding Search Engine Evaluator, kerja online saya yang sekarang.

Tapii itu tahun lalu, saya kurang tahu kalo untuk project baru ini. Buat kamu yang tertarik untuk kerja online seperti saya, silakan dicoba!

Berikut saya share email yang bersifat umum yang saya terima, sepertinya siapa pun bisa apply.

Dear Sir or Madam,

Hi and Greetings from Appen!

Note: This is a one-time email and we will only contact you again if you request.

Do you use social media every day to stay connected with friends and family? If so, Appen, recognized as a leader for work from home opportunities, has a new part-time, remote opportunity for you.

We are looking for people who are active on social media to work part-time from home for at least 1-4 hours a day, 5-7 days a week. The role is part of a virtual team to help improve the relevancy of the newsfeed for a leading global social media platform.

Interested? Learn more and apply today by following these easy steps:

  • Go to this link:

http://bit.ly/1YyuCqN

  • Click Apply
  • Complete your application profile and submit
  • Please do not forget to complete the questionnaires included and attach your updated resume.

Once you are done, please notify us and we will check it in our application database.

Want to learn more about Appen? Visit us on the web at www.appen.com. Or, follow us on Facebook at: https://www.facebook.com/AppenInc

To help ensure that all Appen emails are always delivered to your inbox, you must add the ‘@appen.com’ domain to your Contact List, Address Book, or Safe Sender List. We also suggest that you check your Spam/Junk Folder.

Should you have any questions, please let me know.

Thanks,

Venus Repangue

Staffing Specialist

vrepangue@talent.appen.com

*postingan ini hanya bertujuan untuk berbagi informasi peluang kerja online, saya tidak ada afiliasi apa pun dengan Appen. Jika ada pertanyaan silakan tuliskan di kolom komentar berikut, insyallah akan saya jawab sebisanya dan sepengetahuan saya

Good Luck ya!


If you have a question related to my post, please leave a comment through my blog posts. I don’t feel comfortable for being contacted via private message in my social media. I am so sorry but thank you so much for being my valued reader 🙂


 

Wacom Intuos Photo: Unboxing Graphic Tablet Pertamaku

Memang, Rabu sore itu terlihat suram, tapi hati saya justru terang benderang. Impian untuk membeli graphic tablet Wacom akhirnya tercapai, yayy!

Sore itu, langit Depok terlihat gelap. Hujan turun rintik-rintik. Pemandangan di Jalan Margonda dipenuhi kendaraan yang padat merayap. Tak heran, bunyi klakson pun terdengar bersahutan.

Saat saya melangkah keluar dari toko Gramedia Depok, mendadak air hujan menjadi sangat rapat dan deras. Sepertinya langit baru saja menumpahkan air yang sedari tadi tertahan.

Tapi saya ingin

Meskipun pulang kehujanan, namun hati rasanya girang bukan kepalang. Agak lebay sih ya, tapi memang benar, rasanya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan.

Serba penasaran dan tidak sabar untuk segera pulang dan mencobanya. Saya baru saja membeli mainan baru, Wacom Intuos Photo.

Mengapa Tertarik dengan Graphic Tablet?


Sebelumnya saya tidak tahu apa itu graphic tablet. Sampai akhirnya sering banget liat video tutorial photoshop, contohnya Aaron di channel Phlearn.

Saat ia menjelaskan teknik editing, ia menggores-goreskan sebuah pena di atas objek berwarna hitam, tipis, seukuran buku, dan berbentuk seperti tablet.

Biasanya kalau edit foto melalui photoshop, saya hanya mengandalkan touchpad, tanpa mouse. Sampai akhirnya saya jadi terbiasa melakukan retouching foto hanya dengan mengandalkan jari.

Pas lihat video tutorial photoshop dengan graphic tablet, saya langsung tertarik. Wah sepertinya seru ya. Kepo pun beraksi.

Setelah explore kesana kemari, akhirnya saya jatuh cinta sama Wacom Intuos Pro Medium. Sayangnya untuk sekedar mencoba dan belajar, budget Wacom Intuos Pro itu terlalu besar.

Saya coba searching harga wacom di beberapa online shop, Intuos Pro ukuran small aja berkisar Rp 4,399,000 sedangkan Intuos Pro ukuran Medium berkisar Rp 6,320,000. Cukup mahal bukan?

Kalau bukan untuk urusan bisnis atau nyari duit, saya belum berani mengeluarkan budget sebesar itu. Akhirnya saya cari alternatif lain dan ketemulah hati saya dengan wacom intuos photo.

Continue reading “Wacom Intuos Photo: Unboxing Graphic Tablet Pertamaku”

Mau 100GB Free Storage di Google Drive? Begini Caranya

100GB Free Storage di Google Drive itu sudah sangat lumayan bagi saya.

Bulan Agustus 2016 lalu, ketika saya akan mengirim hasil photo editing, account Gmail saya selalu muncul peringatan low storage karena kapasitas nyaris penuh. Bayangkan 14,2 GB terpakai dari total 15GB yang dikasih Google. Ibarat tas yang sudah kepenuhan sampai zipper nya susah ditarik.

“Wah harus ngapusin data lagi nih,” batin saya sambil ngebuka file di Google Drive dan memilih-milih file mana yang akan di hapus. Rasanya seperti membongkar ulang isi koper yang sudah tertata rapi tapi harus dikurangi karena ingat kapasitas bagasi.

Memang, saya sering kirim foto melalui email, terutama jika jumlahnya tidak banyak. Kalau jumlahnya banyak biasanya saya share folder lewat Google Drive.

Kedua, sebelum hobi streaming film, dulu saya masih sering download film di Ganool yang terkadang file filmnya langsung tersimpan di Google drive.

Belum lagi, kalau mau sharing data dengan kapasitas besar dan malas ketemuan, ujung-ujungnya, ‘share di Google Drive ya!’ Akibatnya, kapasitas saya sering penuh dan harus sering-sering dihapusin.  Capek.

Continue reading “Mau 100GB Free Storage di Google Drive? Begini Caranya”

Hal yang Paling Saya Sesali dari Kerja Online

Meskipun kerja online itu sangat menyenangkan, ada satu hal yang paling membuat saya menyesal dari kerja online. Bahkan masih saya sesali sampai sekarang!

Fresh Apple!


3 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih fresh. Ibarat buah, saya baru saja selesai dipanen. Seorang fresh graduate yang belum genap satu tahun pasca lulus kuliah.

Saking freshnya, saya terlalu polos untuk berani mencoba hal-hal baru, kerja online. Impian saya waktu itu adalah mendapatkan pekerjaan ideal, kerja kantoran. Berangkat pagi, pakai blazer, sepatu high heel, dan duduk manis di depan komputer. Kelihatannya keren gimana gitu.

Ternyata setelah saya coba, kerja kantoran tidak sekeren yang ada di pikiran saya. Pagi hari, tidak ada santainya sama sekali. Badan pegel pun, pura-pura bugar, ya  mau ga mau harus cepet-cepet mandi, siap-siap, sarapan dan mengejar absen.

Belum lagi mikirin baju kantor, yang ternyata ga seelegan yang saya bayangkan. Mungkin karena saya serba pas-pasan, mau dipakein baju kek apa juga bakal mentok, gitu-gitu aja. Apalagi make sepatu high heel, ini sepatu bukannya bikin kaki enak malah bikin bengkak. Udah deh bye, buang jauh-jauh!

Sampai suatu hari, saya merasakan kerja kantoran tidak lagi ideal buat saya, ketika kebutuhan terus meningkat dan saya perlu tambahan pendapatan.

Saya berharap memiliki pekerjaan yang lebih fleksibel. Bisa mengerjakan beberapa project sekaligus, kerja kantoran tetep jalan tapi tabungan juga bertambah. Saya pun lari ke internet!

Continue reading “Hal yang Paling Saya Sesali dari Kerja Online”

Kerja Online, Paket Internet Apa yang Paling Bagus di Wilayah Jabodetabek?

Apakah kamu sedang mencari paket internet unlimited dengan kecepatan ultra-fast yang bisa browsing dan streaming tanpa bapering? Apakah kamu sedang mencari paket internet murah yang tidak membuat dompet kamu seakan-akan bocor?

Memang, tidak ada hal yang menggembirakan dari internet selain kecepatan, sinyal kuat, harga paketnya murah dan pelayanan memuaskan. Saya pun berpikiran demikian dan saya paling tidak suka dengan koneksi internet yang lelet (Bisa naik darah kalo ngadepin koneksi internet yang macam begini).

Memutuskan menggunakan provider internet itu, ibarat memilih baju, cocok-cocokan. Saat membeli baju, pertama harus sesuai selera, selanjutnya baru berani mencoba, jika ternyata cocok, maka jadilah dibeli. Setelah dibeli, dicoba dipakai, dan ternyata nyaman, jadilah itu baju sebagai baju andalan.

Ketika membeli baju, tentunya kamu ga mau dong, begitu kelihatan menarik, langsung comot, bayar ke kasir dan selesai. Setelah nyampe rumah, yaah ternyata kekecilan atau yaah ternyata kebesaran. Pada akhirnya apa? tidak jadi dipakai sama sekali dan tertimbun diantara pakaian-pakaian dalam lemari.

Begitu juga saat memilih internet, kamu juga tidak mau kan hanya asal termakan iklan atau mbak-mbak sales yang punya jurus seribu cara sampai akhirnya kamu jadi beli?

Nah kali ini saya akan review pengalaman saya menggunakan Modem Wifi Bolt 4g dan paket internet Bolt yang selama ini saya gunakan untuk kerja online di kosan, browsing-browsing, youtube-an, streaming film di Putlocker, nonton film animasi di Kisscartoon, download ebook, dan internet harian untuk hape saya. Siapa tahu, kamu juga cocok dengan paket internet ini.

Continue reading “Kerja Online, Paket Internet Apa yang Paling Bagus di Wilayah Jabodetabek?”

Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Indonesia wilayah Depok. Kosan sudah mulai sepi. Sepertinya, anak-anak kosan juga sudah pada tidur. Apalagi ini bulan puasa, harus tidur cepet supaya bisa bangun buat sahur.

Tapi beda dengan saya, jam segitu saya masih melek. Melek serius malah, pasalnya saya masih mantengin task dari Leapforce yang lagi banyak-banyaknya. Sayang dong kalo ga dikerjain. Dalam dunia rater search engine, waktu saat task lagi ada itu sangat berharga, karena sistemnya first-come, first-served.

Sebenarnya, saya sudah mulai mengerjakan dari jam 10 malam. Biasanya saya berhenti pukul 12 malam, lanjut tidur, kemudian bangun jam 3 atau 4 pagi. Tapi karena lagi tanggung yaudah saya terusin sampai task itu selesai.

Kalau inget kejadian itu, rasanya saya pengen cepet-cepet nutup laptop dan buru-buru nutupin muka saya pake bantal. Maaf ya, maklum saya orangnya parno-an kalau ngomongin hal yang berbau mistis. (Tengok kanan kiri)

Saat itu, saya sedang asyik-asyiknya ngerating, mengingat pekerjaan saya sebagai seorang rater. Setelah klik submit, maka muncul task baru.

Mungkin karena saat itu saya juga sudah mulai mengantuk, jadi agak buram-buram gimana gitu, ga gitu jelas query atau keyword nya apa. Begitu langsung scroll…

Deggggg…..!

Continue reading “Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!”

Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?

Beberapa hari terakhir, saya menanyakan satu persatu teman-teman saya yang telah mendaftar Leapforce. Bagaimana dengan progress mereka, bagaimana dengan hasil ujiannya, apakah ada kabar bahagia?

Ternyata hampir semuanya menjawab dengan kompak, belum. Ya saya yakin, belum bukan berarti tidak akan ada kabar bahagia, hanya saja kabar bahagia itu sedang ditunda sampai tiba waktu yang tepat.

Saya pun tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian menanyakan, apa yang kira-kira membuat mereka gagal ujian. Hal ini saya lakukan untuk menarik asumsi, apa yang kurang dari strategi mereka tersebut.

Perlu diketahui, saya menulis pengalaman saya bekerja di Leapforce bukan karena promosi, affiliate marketing atau semacamnya. Tapi saya ingin mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja online. Lumayan lho bisa untuk jajan, bahkan kalo rajin mungkin bisa beli berlian, agak lebay sih.

Setelah tanya kesana kemari, sepertinya asumsi terkuat saya terkait penyebab terbesar mengapa banyak pendaftar yang gagal ujian Leapforce adalah ‘kurang kepo.’

Ini kan mau kerja bukan mau gosip kenapa harus kepo?

Tidak selamanya kepo itu diartikan negatif. Saat bekerja sebagai Search Engine Evaluator, kamu justru dituntut untuk memiliki insting kepo tingkat tinggi. Insting kepo inilah yang akan membuat kamu lebih memahami cara kerja Leapforce.

Mengapa saya menyebutnya kurang kepo? Karena biasanya, banyak pendaftar yang kurang mengeksplorasi sedetail-detailnya tentang Leapforce dan ujian kualifikasinya pada saat mengikuti ujian.

Selain mengetahui 6 hal yang wajib kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce dan strategi memanfaatkan alokasi waktu ujian, kamu juga perlu mengeksplorasi hal-hal berikut:

Continue reading “Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?”