Kuliah: Niat Tanpa Keraguan

Saya sering menangis saat mengutarakan niat dan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah. Orang tua saya menentangnya, boro-boro untuk biaya kuliah, untuk makan esok hari saja susah. Mereka lebih menyarankan saya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai buruh di pabrik sehabis lulus SMA. Rasanya sedih, sedih sekali, saya tidak ingin mengikuti peta yang sama. Saya ingin mencari jalan lain yang bisa mengangkat kehidupan keluarga saya kelak. Niat saya bulat, saya harus kuliah tahun depan.

“I intend to create this and i know it will work out”

unnamed-2-2

Foto Balairung UI (Doc. Pribadi)

Sejak kelas 3 SD, saya sudah belajar mandiri. Ibu saya merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri demi memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Mungkin sejak saat itulah saya mengenal adanya kekuatan di dalam sebuah niat atau the power of intention. Saya tidak lagi merasa takut untuk memiliki keinginan, untuk bermimpi dan untuk berniat mengejarnya. Salah satu kekuatan akansebuah niat yang saya rasakan adalah ketika saya memperjuangkan keinginan saya untuk masuk UI. Siapa sih yang tidak kenal UI, kampus prestigious yang terkenal dengan jargon the yellow jacket-nya. Bagi orang yang berpendidikan dan paham soal internet, pasti tahu, tapi tidak bagi orang-orang di sekeliling saya. Waktu itu masih sangat jarang yang tahu soal UI, mereka lebih mengenal UGM dibanding UI, jelas Jogja lebih dekat dengan Kebumen, dibanding Depok atau Jakarta.

Untungnya, di kalangan lingkungan SMA banyak yang tahu soal UI. Namun ada sedihnya mereka tahu soal itu. Pengetahuan soal UI itulah yang membuat kita menjadi takut, takut untuk bermimpi. Kampus ternama yang berada di kota besar, tentu menyurutkan semangat anak-anak desa sebelum mereka berani berperang. Tidak hanya soal nilai dan kemampuan tetapi juga mental. Bagaimana tidak, banyak orang yang meragukan seorang anak desa, pinggir pantai bisa masuk UI, paling cuma mimpi. Apalagi anak dari seorang buruh dan pembantu rumah tangga seperti saya. Mental baja sangat dibutuhkan pada saat itu, sayangnya mental saya tidak sekeras baja.

Saya sering menangis saat mengutarakan niat dan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah. Orang tua saya menentangnya, boro-boro untuk biaya kuliah, untuk makan esok hari saja susah. Mereka lebih menyarankan saya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai buruh di pabrik sehabis lulus SMA. Rasanya sedih, sedih sekali, saya tidak ingin mengikuti peta yang sama. Saya ingin mencari jalan lain yang bisa mengangkat kehidupan keluarga saya kelak. Niat saya bulat, saya harus kuliah tahun depan.

Saya sudah mencoba beberapa kali mempengaruhi kedua orang tua saya dan mencoba meyakinkan mereka bahwa saya akan kuliah sambil bekerja. Mereka tidak perlu memikirkan bagaimana saya hidup di sana nanti, saya hanya perlu ridho mereka. Namun hati mereka sudah kekeuh, sekali tidak tetap tidak. Berat memang dan entah berapa kali saya menangis waktu itu. Meskipun mental saya tidak sekeras baja, tapi setidaknya mental saya punya sifat elastis. Sehabis dihantam hingga bonyok, hati sayabisa kembali ke bentuk semula, bahkan menjadi lebih kuat, kuat sekali.

Sekali berniat, maka harus saya lanjutkan. Saya hanya memendam niat dan tujuan saya dalam hati, tapi tidak demikian dengan usahanya. Meskipun diam, usaha saya justru melejit. Saya giat belajar demi memperoleh peringkat satu UAN dan mendapat tambahan dana untuk membeli formulir ujian SPMB pada waktu itu. Niat dan tekad saya semakin membuncah dan tak ada keraguan sedikitpun untuk berusaha mengejarnya. Waktu itu niat dan tekad saya sudah bulat untuk memilih UI sebagai kampus impian. Saya ingat, kakak-kakak dari UI melalui UI goes to Kebumen memberikan penjelasan bahwa UI tidak akan mengeluarkan mahasiswanya hanya karena soal biaya. Maka kata-kata itulah yang selalu saya pegang untuk memotivasi saya agar bisa masuk kesana.

Pada waktu itu, saya memang tidak menceritakan soal rencana saya masuk UI kepada siapa pun kecuali Allah SWT di setiap doa saya. Saya tidak ingin orang lain meng-underestimate saya sehingga membuat goyah semangat saya. sampai akhirnya saya mencoba SPMB dan Allah SWT mengabulkan doa dan usaha saya. Saya diterima di UI tahun 2008. Orang tua saya pun tidak tahu jika selama ini saya rajin belajar adalah untuk mempersiapkan ujian masuk UI. Baru setelah itu saya utarakan baik-baik kepada mereka dan meyakinkan bahwa saya mau berusaha untuk kuliah sambil bekerja, cukup berikanlah ridhokalian kepada saya untuk mencapainya.

Saya masih ingat sekali, berangkat dari Kebumen ke Kota Depok hanya berbekal uang Rp 250,000,- untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan saya tidak ada ide mendapat uang darimana untuk membayar biaya kuliah seperti yang tertulis dihasil pengumuman dengan biaya per semester Rp 7,500,000,-, uang pangkal Rp 5,000,000,-, biaya DKFM dan DPP Rp 700,000,-, total sekitar Rp 13, 200,000. Tempat tinggal pun tidak ada, saudara juga tidak ada dan pekerjaan pun belum ada. Pikiran saya cuma satu, pergi ke Depok dan semuanya bisa diurus nanti. Nekad memang, sungguh nekad. Tapi niat nekad inilah yang akhirnya membuat saya berhasil lulus menjadi sarjana.

Perjuangannya memang tidak mudah karena saya harus mengurus dan mengajukan BOPB UI untuk mendapatkan keringanan biaya. Pada waktu itu, program BOPB baru mulai dilaksanakan tahun 2008 tepat sekali ketika saya masuk. Prosesnya belum terstruktur seperti sekarang. Bahkan saya sampai harus melobi ke Manajer Kemahasiswaan fakultas karena saya masih keberatan dengan biaya yang diberikan. Sampai akhirnya saya mendapatkan potongan biaya pendidikan, beasiswa full 4 tahun beserta uang saku dan pekerjaan part time yang bisa saya lakukan untuk menyambung hidup. Alhamdulillah.

Contoh lain yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah kisah Zulfikar Akbar Cordova, seorang pengamen jalanan yang berhasil masuk UI program S1 Reguler, jurusan Ilmu Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis melalui jalur SBMPTN 2015. Seperti di kutip dari Kompas.com, Kamis, 30 Juli 2015, Zulfikar Akbar Cordova atau sering disapa Dodo, sempat putus sekolah saat baru saja menyelesaikan studi di tingkat SMP. Keterbatasan biaya membuat mimpinya kandas untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun tidak dengan dirinya, niat dan keinginannya selalu membara untuk tetap bisa bersekolah. Menurut dia, selama ada niat dan kemauan pasti ada kesempatan yang bisa dicapai dengan usaha keras.

Hingga pada suatu hari, Dodo melihat kesempatan untuk dirinya melanjutkan pendidikan terasa terbuka lebar. Tepatnya ketika ia membaca artikel harian Kompas tahun 2014 terkait sekolah gratis Masjid Terminal (Master). Sekolah gratis yang ada di wilayah terminal Kota Depok. Ia pun tidak tanggung-tanggung untuk segera mendaftar di sekolah tersebut. Niatnya pun tidak berhenti hanya sampai lulus SMA saja, ia bertekad untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk pendidikan di universitas.

Ketika ada kesempatan program intensif untuk persiapan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Dodo pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berjuang untuk tetap bisa mengikuti program intensif dari Senin hingga jumat sejak pukul 08.00 – 16.30 WIB. Sehabis program intensif, ia mengamen untuk menyambung hidup dan sepulang mengamen ia kembali mengulang pelajaran yang diajarkan selama seharian di program Intensif dari anak FEB UI. Ia tidak pernah merasa minder, meskipun dia seorang pengamen jalanan, ia tetap bersemangat untuk meraih apa yang ia cita-citakan.

Demikianlah, dua kisah nyata yang bisa menjadi penyemangat kita bahwa dalam sebuah niat pasti ada kekuatan yang tidak terduga. Kekuatan besar yang mampu mengantarkan kita pada tujuan yang akan kita capai, doa yang setiap hari kita panjatkan dan usaha yang setiap saat kita lakukan. Niat yang saya buat untuk meraih gelar S1 diatas sama halnya dengan niat yang saya buat ketika bercita-cita ingin pergi umroh.

Umroh yang waktu itu saya jalani bersama sahabat saya, kurang lebih sekitar bulan Maret 2014. Sekitar dua tahun setelah saya lulus kuliah di tahun 2012. Saya bekerja di sektor pendidikan, bukan sektor swasta yang mungkin gajinya lebih besar. Gaji saya sebagai pegawai kontrak waktu itu masih di bawah 3 juta. Mungkin bisa kalian bayangkan dengan gaji 3 juta (bahkan kurang) bagaimana ceritanya bisa Umroh, buat makan dan hidup aja seperti susah. Tepat sekali! Itu adalah logika kita tapi tidak dengan Tuhan, Allah SWT. Dia maha berkehendak, yang bisa membuat suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin atas seizinnya. Kuatkanlah niat kita dan percayakanlah pada Allah SWT.

Seseorang yang percaya akan adanya kekuatan dari sebuah niat, akan terlihat sama dengan orang-orang pada umumnya. Mereka tidak mengenakan pakaian khusus agar terlihat berkualitas. Tapi coba kita dekati dan cobalah untuk mengenal hidupnya, kamu akan langsung menganggapnya sebagai the lucky ones yang bisa melakukan sesuatu yang mungkin kamu belum bisa mencapainya, dan ketika kamu coba untuk bercakap-cakap dengannya kamu akan sadar betapa uniknya mereka.

Mereka adalah individu-individu yang mempersiapkan dirinya untuk menerima kesuksesan. Tidaklah mungkin bagi orang-orang tersebut untuk menjadi pesimis dalam mencapai apa yang ia idam-idamkan. Daripada mereka mengeluarkan kata-kata yang menyatakan bahwa keinginan mereka mungkin tidak tercapai, mereka lebih memilih untuk yakin dengan diri mereka sendiri dan percaya bahwa Allah punya segalanya, Dia bisa mensuplai apa pun yang kita minta. Mereka tidak berkata, “Tanpa keburuntungan saya tidak akan bisa,” tapi sebaliknya, mereka justru berkata, “Saya berniat melakukannya dan saya yakin, saya pasti bisa.”

Niat mereka sangatlah kuat karena orang-orang yang percaya terhadap kekuatan sebuah niat akan menempatkan pikiran-pikiran mereka hanya pada hal-hal yang mereka inginkan. Dengan demikian pikiran mereka akan semakin terfokus pada satu tujuan yang ingin dicapai. Berapa pun alasan yang akan kamu berikan untuk melemahkan rasa optimisnya, mereka akan tetap berpegang teguh pada pendirian. Kalaupun kalian terlibat dalam sebuah perdebatan, mereka tidak akan berusaha untuk memenangkan perdebatan. Karena bagi mereka, mereka tidak perlu mendapat persetujuan dan pengakuan dari orang lain sebelum mereka memulai usaha. Walaupun setelah berdebat panjang mereka terlihat diam, yang mungkin menurut kamu dia menyerah, sebenarnya tidak. Mereka akan menyimpan niat yang justru akan semakin membuncah dan berusaha semakin keras untuk membuktikan bahwa niatnya berhasil.

Mereka tidak begitu memikirkan akan kegagalan atau ketidakmungkinan, bahkan mereka punya aura alami untuk menghindari hal-hal yang bisa melemahkan niat mereka. Secara umum, orang-orang yang memiliki ketakutan akan masa depan, mungkin akan melihat bahwa keinginan orang tersebut ‘gila’ sehingga menyarankan agar mereka untuk memikirkan ulang keinginan tersebut dan cobalah mengganti mimpinya dengan hal lain yang lebih relistis.

Namun sayangnya, mereka tidak ter-distract oleh hal-hal seperti itu. Mereka terlihat seperti hidup di dunia yang berbeda, sebuah dunia dimana mereka tidak dapat mendengar alasan-alasan mengapa suatu hal tidak mungkin terjadi. Mereka hanya yakin bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin. Mereka sangatlah percaya bahwa Allah maha berkehendak, ada pertolongan-pertolongan Allah SWT yang tak terduga bagi hamba-hambanya yang berusaha.

Apa jadinya jika kita tidak mendasari setiap usaha dengan niat? Pernahkah kamu mengalami hal berikut, suatu hari kamu bersama teman-temanmu sedang berkumpul atau hang out bersama. Tiba-tiba ada yang mencetuskan ide untuk nge-trip bareng. Serentak, semuanya setuju untuk memiliki pengalaman nge-trip bareng. Akhirnya semua cocok dan memiliki keinginan bersama untuk pergi ke Gunung Bromo. Seminggu kemudian setelah pertemuan itu, tidak ada follow up terkait keinginan kalian untuk berlibur ke Gunung Bromo. Bahkan di grup Whatsapp, hanya muncul kata-kata, “Jadi ke Bromo ga nih kita?”, “Jadi,” sahut orang pertama, “Jadi, jadi,” sahut orang kedua, “Jadi yuk jadi!” sahut orang ketiga dan kemudian hening. Hanya itu tidak lebih. Alhasil rencana pun menjadi tidak jelas. Suatu tindakan yang tidak didasari oleh niat yang kuat akan berakhir ‘menggantung’. Jika semua anggota berniat dan bersungguh-sungguh pergi ke Gunung Bromo, maka dapat dipastikan kalian akan segera menyusun rencana mulai dari pembelian tiket, penginapan dan lain-lain. Maka benar-benar terjadilah, trip bersama ke Gunung Bromo.

Contoh lainnya, ibarat suatu hari kita ingin pergi ke mall, namun sayangnya kita tidak memiliki niat dengan kata lain tidak memiliki tujuan dan target mengapa kita pergi ke mall. Alhasil kita memang benar datang ke Mall, namun kita tidak langsung menuju sasaran seperti jika kita memiliki niat membeli sepatu maka kita langsung menuju toko sepatu. Tapi karena tidak ada niat maka kita hanya berputar-putar, jalan kesana kemari sambil melihat lihat. Ada efek bagusnya ada tidaknya. Bagusnya, kita cuma lihat-lihat dan tidak membeli apa-apa, hanya untuk refreshing. Tidak baiknya, coba kita hitung berapa lama waktu yang telah kita habisnya hanya untuk sesuatu yang tidak ada targetnya. Kita sudah menghabiskan waktu, tenaga atau mungkin saja kita malah membeli hal lain yang sebenarnya belum kita perlukan.

Oleh karena itu, jika kita memiliki mimpi, buatlah niat yang kuat. Niat yang akan membantu kita untuk tetap berdiri kokoh pada pendirian awal. Niat yang membuat kita tidak ter-distract oleh hal-hal lain yang bisa melemahkan semangat. Niat yang membuat kita tetap fokus mengejar apa yang sudah kita targetkan sejak awal. Niat yang membuat usaha kita menjadi lebih efektif sehingga impian kita pun segera tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s