Mungkinkah Bisa Kuliah Gratis?

Hai teman teman blogger, para pejuang pendidikan sekalian. Ada ga diantara teman teman yang saat ini sedang galau? Galau? Eits bukan galau soal cinta atau yang lainnya ya. Tapi galau karena sebentar lagi kalian lulus SMA dan bingung mau ngapain selanjutnya. Mau kuliah ga ada biaya, mau kerja juga ga punya keahlian, masih pas pasan.

Mau kuliah pengen sih, tapi emang ada kuliah dengan biaya 0? Zaman sekarang mana ada kuliah gratis pasti banyak embel embelnya bayar inilah itulah, ujung-ujungnya duit. Gak mungkin deh kuliah gratis. Kalo orang ga punya ga usah mimpi kuliah. Mending kerja cari duit.

Itulah kata kata yang sering saya dengar dulu sewaktu lulus SMA. Hampir semua orang bilang demikian termasuk orang tua. Waktu itu, Orang tua saya tidak pernah memperbolehkan saya kuliah. Bahkan melarangnya. Saya disuruh langsung bekerja, merantau ke Jakarta bekerja di pabrik lah, jadi pembantu lah, baby siter lah dan sebagainya. Intinya kerja dan cari duit.

 

Tiap saya ijin mau kuliah, orang tua saya langsung marah dan menasehati saya panjang lebar sampai terasa perih sekali di hati. Rasanya ingin menangis dan memang benar, menangis. Menangis dan terus menangis karena saya terus minta ijin walau ujung-ujungnya menangis.

Keluarga saya memang tergolong kurang mampu. Buat makan aja susah apalagi kuliah. Saya sadar itu, dan ketika ijin pun saya selalu bilang, saya tidak minta uang, saya hanya minta ijin. Saya akan berusaha kuliah sendiri dengan biaya sendiri, saya akan kuliah sambil kerja. Tapi orang tua ku menjawab, kerja apa emang bisa kuliah sambil kerja, emang tahu mau kerja dimana, tahu jakarta kaya apa, ga bakal bisa. Sedihnya, Selain saya tergolong kurang mampu, dukungan orang tua pun ga ada, bertambahlah sakit hati ini. Perih.

Akhirnya setelah aku pikir pikir, apa aku harus menurut saja ya, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan orang tua. TIDAK. Keinginan saya untuk kuliah tidak akan berhenti begitu saja. Nasib saya ga akan berubah. Akan sama dengan tradisi sebelumnya. Akan sama dengan nasib tema teman saya yang lain satu desa.

Sampai akhirnya saya membulatkan tekad untuk menyusun sebuah rencana diam diam. Rencana untuk tetap mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Tanpa memikirkan biaya. Mengapa? Sebab jika saya memikirkan biaya maka pikiran saya akan terpecah. Memikirkan biaya dan uang yang memang saya ga punya. Percuma memikirkan hal yang aku ga punya.

Maka saya cuma memikirkan dua hal, saya punya otak dan saya punya Allah. Allah bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, hal yang mustahil menjadi nyata, hal yang kita tidak bisa menjadi bisa. Nah kemampuan berpikir inilah yang akhirnya saya kembangkan. Bagaimana caranya saya bisa masuk perguruan tinggi. Kalau bisa perguruan tinggi mana yang bisa ngasih saya beasiswa. Ngasih jaminan ke mahasiswanya ga akan di keluarin kalo g ada biaya. Dan waktu itu, slogan “ga akan di keluarin kalo ga ada biaya” itu ada di UI. Maka saya kejarlah mati matian. Saya akan berusaha sebisa saya, selebihnya biarkan Allah yang memikirkan, apakah ini memang rejeki dan takdir saya? Jika iya, maka Allah akan selalu memudahkan setiap langkah kita.

Keinginan Anak pesisir antah barantah yang ngarep masuk UI. Entah seperti apalagi cibiran yang akan datang kepada saya. Nah, Untuk menghindari semakin di cibir. Saya ga pernah bilang mau kuliah atau ga, di univ mana juga saya ga bilang. Saya cuma diam tapi terus belajar dan berdoa, gimana caranya saya bisa ngerjain soal soal SNMPTN (jaman saya ujian tulis yang skrg namanya SBMPTN dulu bernama SNMPTN). Saya harus lulus. Tapi gimana saya daftar, uang buat beli formulir saja saya ga punya. Tapi saya ga kehabisan akal. Allah maha kaya, pasti ada rejeki buat saya. Saya yakin, jika saya mau berusaha dan meminta kepadaNya, pasti ada rejeki buat saya beli formulir. Meski saya belum kebayang lewat apa rejeki itu, itu kehendak Allah.

Sampai akhirnya saya sekarang sudah lulus dari kampus perjuangan ini, UI. Momen ini ga akan pernah saya lupakan. Karena sepanjang hidup ini mungkin perjuangan untuk melawan tradisi dan lingkungan sampai bisa membuktikan saya bisa kuliah dengan modal 0, sangatlah berat. Tapi saya bersyukur, saya belajar banyak hal dari kejadian ini. Saya akan share kisah perjuangan saya di tulisan tulisan berikutnya, saya berharap tulisan saya nanti bisa menjadi motivasi buat teman teman yang masih ragu untuk lanjut kuliah karena biaya. Salam semangat!

Loser always say,”it may be possible but it’s too difficult,” and Winner always say, “it may be difficult but it is possible”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s