5 Hal yang Wajib Kamu Perhatikan Saat Tinggal Jauh dari Keluarga

Akhir-akhir ini banyak kasus pembunuhan dan bunuh diri di kalangan remaja maupun mahasiswa. Tempat kejadian perkaranya pun di kosan yang bersangkutan. Di sekitar kampus UI sudah beberapa kali ditemukan kasus serupa.

Kamis, 29 Maret 2015, Akseyna Ahad Dori, Mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UI ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI dekat Balairung. Motif tewasnya mahasiswa tersebut masih terus di dalami. Beredar kabar, mahasiswa tersebut bunuh diri, beredar juga mahasiswa tersebut dibunuh.

Pada Ahad, 28 Juni 2015, Dwi Purnama Putri alias Beki, Mahasiswi Fakultas Hukum UI ditemukan meninggal di kamar kosan karena sakit. Baru ketahuan, setelah temannya datang ke kamar kosannya karena penasaran pesan singkatnya tidak kunjung dibalas.

Dan baru-baru ini, pada Selasa Siang, 31 Mei 2016, Vinsensius Billy, ditemukan tewas di kamar kosnya karena gantung diri.

Semua kejadian diatas pasti akan membuatmu merinding ngeri. Namun disisi lain, juga ada rasa iba. Jika saja mahasiswa yang sakit punya teman dekat satu kosan yang bisa merawat saat ia sakit. Jika saja mahasiswa yang punya masalah, stress dan depresi punya tempat dan bersedia untuk berbagi, mungkin kejadian bunuh diri bisa dicegah.

Begitulah, risiko tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. Semua kegiatan, kebutuhan dan masalah harus siap dihadapi sendiri. Sendiri disini bukan berarti kamu harus benar-benar menyelesaikan masalah kamu sendirian.

Manusia adalah makhluk sosial, kita perlu orang lain untuk berbagi cerita sehingga beban kamu terasa lebih ringan. Jika beban yang kamu hadapi kamu pikul sendiri, maka stress dan depresi tidak dapat terhindarkan.

Oleh karena itu, berikut adalah 5 hal yang harus kamu perhatikan jika kamu tinggal di kos-kosan atau tinggal jauh dari orang tua dan keluarga.

  • Jika kamu tinggal di kosan, cobalah menjalin hubungan baik dengan warga kosan lainnya

Terutama tetangga kamar yang berada di depan kamar atau samping kiri kanan. Jagalah silaturrahmi dengan mereka dan bangunlah hubungan baik dengan mereka. Mereka akan menjadi keluarga terdekat kamu di kosan tersebut. Kalian bisa saling tolong menolong. Sehingga jika ada apa-apa misalnya sakit atau stress karena masalah kamu bisa minta tolong dan sharing kepada mereka, begitu pula sebaliknya.

  • Jagalah asupan nutrisi dengan baik dan teratur

Tinggal dikosan memang berisiko telat makan. Alasannya gampang, males keluar kamar dan nyari makan. Akibatnya, sistem pencernaan anak kosan akan mudah terganggu. Sebagai contoh, saya ingat sekali, dulu sebelum jadi mahasiswa saya tidak punya sakit maag sama sekali. Namun semenjak masuk kuliah, saya punya maag. Hal ini terjadi karena biasanya saya males keluar kosan untuk cari makan.

Waktu itu pernah sekali, saya mengalami sakit maag yang menurut saya terparah sepanjang sejarah hidup saya. Benar-benar merasa sangat pusing, semua yang ada di sekeliling saya terasa berputar-putar sampai saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Duduk salah, tidur pun salah.

Waktu itu saya tinggal di asrama UI dan kebetulan, pada saat itu adalah waktu liburan sehingga sebagian besar mahasiswi yang tinggal disitu pulang kampung. Dan kebetulannya lagi, alhamdulillah pada saat itu ada yang pulang pada saat saya benar-benar sakit dan dia mencarikan obat maag untuk saya.

Sejak saat itu, saya menjadi lebih aware dengan kebiasaan dan jadwal makan. Saya harus makan tepat waktu dan tidak boleh telat karena jika telat, maag saya bisa kambuh lagi. Alhamdulillah semenjak lulus kuliah maag saya sudah tidak pernah kambuh lagi.

  • Jika ada masalah, jangan dipendam sendiri

Carilah teman yang bisa diajak sharing. Kalo pun tidak mau cerita ke teman, kamu bisa menulisnya di buku diary atau blog secara anonim sehingga orang-orang yang membacanya tidak tahu identitas kamu. Dengan demikian, kamu bisa berinteraksi dengan mereka atau bahkan bisa mendapatkan solusi terkait masalah kamu dari pembaca yang mampir ke blog mu.

  • Manfaatkan dengan baik fasilitas konseling kampus

Buat kamu yang masih menjabat sebagai mahasiswa, gunakan fasilitas konesling kamus dengan baik. Sebagai contoh di UI ada yang namanya BKM atau Bimbingan Konseling Mahasiswa. Dulu, lokasinya satu gedung dengan gedung PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa yang sekarang bernama Klinik Satelit).

Saya pernah mencoba menggunakan fasilitas ini saat menemani teman yang memang biasa konsultasi dengan psikolog di BKM UI. Kebetulan waktu itu saya sedang ada masalah dengan teman saya. Masalahnya ga berat-berat amat sih tapi cukup membuat saya stress dan ingin segera menyelesaikannya. Sebab masalah ini, cukup mengganggu pikiran saya yang waktu itu sedang masa ujian.

Fasilitas ini cukup membuat saya lega karena sang psikolog dengan senang hati mengajak saya bercerita. Saya cenderung tertutup untuk bercerita masalah pribadi kecuali dengan teman yang benar-benar dekat dengan saya sehingga saya trust untuk bercerita ke mereka.

Meskipun terkadang kurang sreg dengan solusi yang ditawarkan tapi setidaknya kamu akan lebih tenang dan lega dengan berbagi cerita. Bahkan tidak jarang kamu akan terstimulasi untuk menemukan ide solutif lain dari hasil konseling atau bertukar pikiran tersebut.

Hilangkan pikiran, persepsi atau asumsi bahwa mahasiswa yang datang untuk konseling adalah mahasiswa ‘bermasalah’. Pada dasarnya semua orang bermasalah, dalam artian memiliki masalah. Meskipun tingkat berat tidaknya masalah yang dihadapi akan berbeda-beda.

Dengan konsultasi, kamu akan belajar untuk lebih terbuka karena jujur, memendam masalah sendirian itu berat dan menyakitkan.

  • Jangan suka menyendiri di kamar, bersosialisasilah!

Kamar memang ruang pribadi yang sangat nyaman. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu suka tanpa diganggu orang lain. Namun, kamar juga bisa menjadi tempat yang ‘berbahaya’ jika kamu sedang mengalami kesedihan, stress atau pun depresi. Meskipun, kamar adalah tempat yang cocok jika kamu ingin menangis, namun ruang kecil itu bisa membuatmu susah move on. 

Saat berada di dalam kamar, kamu akan dengan mudah mengingat hal-hal yang membuat kamu sedih, stress dan depresi, bener gak? Hal ini akan membuat kamu terus kepikiran dengan hal-hal itu. Berada dalam posisi yang mendukung seperti itu, membuat kamu terlalu memikirkan dan selalu memikirkan masalah itu.

Cobalah keluar kamar! main ke kamar temen atau hang out sebentar dengan temen untuk sekedar menghilangkan penat. Misalnya nonton, makan atau sekedar jalan jalan dan ngobrol saja. Dijamin, kegiatan itu bisa mendistrak kamu dari memikirkan hal-hal negatif dan masalah-masalah yang seharusnya sudah berlalu.

Jika kamu pulang ke kosan dan kembali merasakan kesedihan dan stress, cobalah cari hal lain yang bisa mendistrak pikiranmu. Misalnya, melakukan hobi atau kegiatan yang paling kamu suka. Meskipun dengan karaokean gak jelas dikamar kamu bisa melakukan itu, as long as itu bisa membuat kamu lega. Intinya jangan biarkan pikiranmu terlalu fokus memikirkan masalah yang sedang kamu hadapi.


If you have a question related to my post, please leave a comment through my blog posts. I don’t feel comfortable for being contacted via private message in my social media. I am so sorry but thank you so much for being my valued reader 🙂


 

 

 

 

4 thoughts on “5 Hal yang Wajib Kamu Perhatikan Saat Tinggal Jauh dari Keluarga

    1. don’t worry, kalo terkait curhat dan kamu tidak punya teman curhat, Tulis di blog aja atau buku diary, itu udah sangat membantu. Belum lagi kalo tulisannya bagus dan readernya banyak, bisa pasang iklan dan menghasilkan uang. Biasanya kalo orang pendiam, kalo nulis jago, semangat!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s