Advertisements

Pengalaman Rental Wifi Wi2fly 11 Hari untuk ke Jepang

Screen Shot 2017-04-01 at 11.30.23 AM

Rental wifi wi2fly, mungkin bagi kamu yang sering bepergian keluar negeri nama ini tidak asing lagi. Tapi bagi saya masih kedengeran asing, apalagi namanya yang agak susah disebut buat lidah jawa kek saya :p.

Memiliki koneksi internet ketika kamu berada di luar negeri memang penting misalnya untuk mencari lokasi wisata, nearby halal restaurant,  shopping area, rute perjalanan, jadwal kereta dan lain sebagainya. Meskipun ya memang, internet bukanlah sebuah keharusan, toh kamu masih bisa survive kok tanpa internet, ciusan.

Buat kamu yang berniat rental travel wifi, berikut pengalaman saya rental wifi wi2fly untuk ke Jepang selama 11 hari (20-30 Maret 2017). Siapa tahu postingan saya ini bisa menginspirasi kamu menentukan rental wifi mana yang sesuai budget kamu.

Continue reading

Advertisements

Apply Visa Jepang: 10 Hal yang Harus Kamu Perhatikan

boat-1835081_1920

-Balada Drama Apply Visa Jepang-

Tik tok Tik Tok

Masukin tas, keluarin lagi, masukin saku, keluarin lagi, akhirnya saya pegang!

Ya, itulah hape saya. Berkali-kali saya melihat ke arah jam digital yang terpampang lebar dilayar. “Duh gimana ini, sudah jam segini, ” batin saya sembari memperhatikan angka 2.45 yang tercetak sangat jelas, ibarat tulisan, udah pake huruf kapital, bold, italic, di underline pula.

Kebetulan saat itu dapet abang ojek yang baik, saking baiknya, motor melaju dengan santai dari arah Stasiun Cikini ke Jalan Thamrin. “Bang bisa agak cepetan gak ya?” Sebenernya pengen banget ngomong ini tapi ga tega takut dibilang kaya yang di meme-meme itu, “kalo mau cepet-cepet berangkat dari kemarin mbak” *kan ga lucu. Mau gimana lagi, karena ga enakan akhirnya cuma bisa duduk was was di jok belakang 😦

Continue reading

New Opportunity at Appen: Social Media Evaluator Project 2016

Beberapa minggu lalu saya mendapat kabar dari beberapa teman saya yang menerima email undangan untuk join project baru Appen. Hari ini saya juga mendapat email dari mereka.

Ada dua email yang saya terima, pertama email umum yang berisi ajakan untuk apply dan kedua email ralat dan additional questioner (sepertinya mereka baru menyadari dulu saya pernah apply di Appen).

Saya pernah join project Social Media Evaluator Appen tahun lalu, kerjaannya lebih gampang dibanding Search Engine Evaluator, kerja online saya yang sekarang.

Tapii itu tahun lalu, saya kurang tahu kalo untuk project baru ini. Buat kamu yang tertarik untuk kerja online seperti saya, silakan dicoba!

Berikut saya share email yang bersifat umum yang saya terima, sepertinya siapa pun bisa apply. Continue reading

Wacom Intuos Photo: Unboxing Graphic Tablet Pertamaku

computer-767781_1280

Memang, Rabu sore itu terlihat suram, tapi hati saya justru terang benderang. Impian untuk membeli graphic tablet Wacom akhirnya tercapai, yayy!

Sore itu, langit Depok terlihat gelap. Hujan turun rintik-rintik. Pemandangan di Jalan Margonda dipenuhi kendaraan yang padat merayap. Tak heran, bunyi klakson pun terdengar bersahutan.

Saat saya melangkah keluar dari toko Gramedia Depok, mendadak air hujan menjadi sangat rapat dan deras. Sepertinya langit baru saja menumpahkan air yang sedari tadi tertahan.

Tapi saya ingin

Meskipun pulang kehujanan, namun hati rasanya girang bukan kepalang. Agak lebay sih ya, tapi memang benar, rasanya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan.

Serba penasaran dan tidak sabar untuk segera pulang dan mencobanya. Saya baru saja membeli mainan baru, Wacom Intuos Photo.

Mengapa Tertarik dengan Graphic Tablet?


Sebelumnya saya tidak tahu apa itu graphic tablet. Sampai akhirnya sering banget liat video tutorial photoshop, contohnya Aaron di channel Phlearn.

Saat ia menjelaskan teknik editing, ia menggores-goreskan sebuah pena di atas objek berwarna hitam, tipis, seukuran buku, dan berbentuk seperti tablet.

Biasanya kalau edit foto melalui photoshop, saya hanya mengandalkan touchpad, tanpa mouse. Sampai akhirnya saya jadi terbiasa melakukan retouching foto hanya dengan mengandalkan jari.

Pas lihat video tutorial photoshop dengan graphic tablet, saya langsung tertarik. Wah sepertinya seru ya. Kepo pun beraksi.

Setelah explore kesana kemari, akhirnya saya jatuh cinta sama Wacom Intuos Pro Medium. Sayangnya untuk sekedar mencoba dan belajar, budget Wacom Intuos Pro itu terlalu besar.

Saya coba searching harga wacom di beberapa online shop, Intuos Pro ukuran small aja berkisar Rp 4,399,000 sedangkan Intuos Pro ukuran Medium berkisar Rp 6,320,000. Cukup mahal bukan?

Kalau bukan untuk urusan bisnis atau nyari duit, saya belum berani mengeluarkan budget sebesar itu. Akhirnya saya cari alternatif lain dan ketemulah hati saya dengan wacom intuos photo.

Continue reading

Mau 100GB Free Storage di Google Drive? Begini Caranya

photographers-1150033_1920

100GB Free Storage di Google Drive itu sudah sangat lumayan bagi saya.

Bulan Agustus 2016 lalu, ketika saya akan mengirim hasil photo editing, account Gmail saya selalu muncul peringatan low storage karena kapasitas nyaris penuh. Bayangkan 14,2 GB terpakai dari total 15GB yang dikasih Google. Ibarat tas yang sudah kepenuhan sampai zipper nya susah ditarik.

“Wah harus ngapusin data lagi nih,” batin saya sambil ngebuka file di Google Drive dan memilih-milih file mana yang akan di hapus. Rasanya seperti membongkar ulang isi koper yang sudah tertata rapi tapi harus dikurangi karena ingat kapasitas bagasi.

Memang, saya sering kirim foto melalui email, terutama jika jumlahnya tidak banyak. Kalau jumlahnya banyak biasanya saya share folder lewat Google Drive.

Kedua, sebelum hobi streaming film, dulu saya masih sering download film di Ganool yang terkadang file filmnya langsung tersimpan di Google drive.

Belum lagi, kalau mau sharing data dengan kapasitas besar dan malas ketemuan, ujung-ujungnya, ‘share di Google Drive ya!’ Akibatnya, kapasitas saya sering penuh dan harus sering-sering dihapusin.  Capek.

Continue reading

Hal yang Paling Saya Sesali dari Kerja Online

Rubbing temples

Image of a frustrated or tired young brunette rubbing temples

Meskipun kerja online itu sangat menyenangkan, ada satu hal yang paling membuat saya menyesal dari kerja online. Bahkan masih saya sesali sampai sekarang!

Fresh Apple!


3 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih fresh. Ibarat buah, saya baru saja selesai dipanen. Seorang fresh graduate yang belum genap satu tahun pasca lulus kuliah.

Saking freshnya, saya terlalu polos untuk berani mencoba hal-hal baru, kerja online. Impian saya waktu itu adalah mendapatkan pekerjaan ideal, kerja kantoran. Berangkat pagi, pakai blazer, sepatu high heel, dan duduk manis di depan komputer. Kelihatannya keren gimana gitu.

Ternyata setelah saya coba, kerja kantoran tidak sekeren yang ada di pikiran saya. Pagi hari, tidak ada santainya sama sekali. Badan pegel pun, pura-pura bugar, ya  mau ga mau harus cepet-cepet mandi, siap-siap, sarapan dan mengejar absen.

Belum lagi mikirin baju kantor, yang ternyata ga seelegan yang saya bayangkan. Mungkin karena saya serba pas-pasan, mau dipakein baju kek apa juga bakal mentok, gitu-gitu aja. Apalagi make sepatu high heel, ini sepatu bukannya bikin kaki enak malah bikin bengkak. Udah deh bye, buang jauh-jauh!

Sampai suatu hari, saya merasakan kerja kantoran tidak lagi ideal buat saya, ketika kebutuhan terus meningkat dan saya perlu tambahan pendapatan.

Saya berharap memiliki pekerjaan yang lebih fleksibel. Bisa mengerjakan beberapa project sekaligus, kerja kantoran tetep jalan tapi tabungan juga bertambah. Saya pun lari ke internet!

Continue reading

Kerja Online, Paket Internet Apa yang Paling Bagus di Wilayah Jabodetabek?

children-593313_640

Apakah kamu sedang mencari paket internet unlimited dengan kecepatan ultra-fast yang bisa browsing dan streaming tanpa bapering? Apakah kamu sedang mencari paket internet murah yang tidak membuat dompet kamu seakan-akan bocor?

Memang, tidak ada hal yang menggembirakan dari internet selain kecepatan, sinyal kuat, harga paketnya murah dan pelayanan memuaskan. Saya pun berpikiran demikian dan saya paling tidak suka dengan koneksi internet yang lelet (Bisa naik darah kalo ngadepin koneksi internet yang macam begini).

Memutuskan menggunakan provider internet itu, ibarat memilih baju, cocok-cocokan. Saat membeli baju, pertama harus sesuai selera, selanjutnya baru berani mencoba, jika ternyata cocok, maka jadilah dibeli. Setelah dibeli, dicoba dipakai, dan ternyata nyaman, jadilah itu baju sebagai baju andalan.

Ketika membeli baju, tentunya kamu ga mau dong, begitu kelihatan menarik, langsung comot, bayar ke kasir dan selesai. Setelah nyampe rumah, yaah ternyata kekecilan atau yaah ternyata kebesaran. Pada akhirnya apa? tidak jadi dipakai sama sekali dan tertimbun diantara pakaian-pakaian dalam lemari.

Begitu juga saat memilih internet, kamu juga tidak mau kan hanya asal termakan iklan atau mbak-mbak sales yang punya jurus seribu cara sampai akhirnya kamu jadi beli?

Nah kali ini saya akan review pengalaman saya menggunakan Modem Wifi Bolt 4g dan paket internet Bolt yang selama ini saya gunakan untuk kerja online di kosan, browsing-browsing, youtube-an, streaming film di Putlocker, nonton film animasi di Kisscartoon, download ebook, dan internet harian untuk hape saya. Siapa tahu, kamu juga cocok dengan paket internet ini.

Continue reading

Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Indonesia wilayah Depok. Kosan sudah mulai sepi. Sepertinya, anak-anak kosan juga sudah pada tidur. Apalagi ini bulan puasa, harus tidur cepet supaya bisa bangun buat sahur.

Tapi beda dengan saya, jam segitu saya masih melek. Melek serius malah, pasalnya saya masih mantengin task dari Leapforce yang lagi banyak-banyaknya. Sayang dong kalo ga dikerjain. Dalam dunia rater search engine, waktu saat task lagi ada itu sangat berharga, karena sistemnya first-come, first-served.

Sebenarnya, saya sudah mulai mengerjakan dari jam 10 malam. Biasanya saya berhenti pukul 12 malam, lanjut tidur, kemudian bangun jam 3 atau 4 pagi. Tapi karena lagi tanggung yaudah saya terusin sampai task itu selesai.

Kalau inget kejadian itu, rasanya saya pengen cepet-cepet nutup laptop dan buru-buru nutupin muka saya pake bantal. Maaf ya, maklum saya orangnya parno-an kalau ngomongin hal yang berbau mistis. (Tengok kanan kiri)

Saat itu, saya sedang asyik-asyiknya ngerating, mengingat pekerjaan saya sebagai seorang rater. Setelah klik submit, maka muncul task baru.

Mungkin karena saat itu saya juga sudah mulai mengantuk, jadi agak buram-buram gimana gitu, ga gitu jelas query atau keyword nya apa. Begitu langsung scroll…

Deggggg…..!

Continue reading

Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?

binoculars-1209011_640

Beberapa hari terakhir, saya menanyakan satu persatu teman-teman saya yang telah mendaftar Leapforce. Bagaimana dengan progress mereka, bagaimana dengan hasil ujiannya, apakah ada kabar bahagia?

Ternyata hampir semuanya menjawab dengan kompak, belum. Ya saya yakin, belum bukan berarti tidak akan ada kabar bahagia, hanya saja kabar bahagia itu sedang ditunda sampai tiba waktu yang tepat.

Saya pun tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian menanyakan, apa yang kira-kira membuat mereka gagal ujian. Hal ini saya lakukan untuk menarik asumsi, apa yang kurang dari strategi mereka tersebut.

Perlu diketahui, saya menulis pengalaman saya bekerja di Leapforce bukan karena promosi, affiliate marketing atau semacamnya. Tapi saya ingin mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja online. Lumayan lho bisa untuk jajan, bahkan kalo rajin mungkin bisa beli berlian, agak lebay sih.

Setelah tanya kesana kemari, sepertinya asumsi terkuat saya terkait penyebab terbesar mengapa banyak pendaftar yang gagal ujian Leapforce adalah ‘kurang kepo.’

Ini kan mau kerja bukan mau gosip kenapa harus kepo?

Tidak selamanya kepo itu diartikan negatif. Saat bekerja sebagai Search Engine Evaluator, kamu justru dituntut untuk memiliki insting kepo tingkat tinggi. Insting kepo inilah yang akan membuat kamu lebih memahami cara kerja Leapforce.

Mengapa saya menyebutnya kurang kepo? Karena biasanya, banyak pendaftar yang kurang mengeksplorasi sedetail-detailnya tentang Leapforce dan ujian kualifikasinya pada saat mengikuti ujian.

Selain mengetahui 6 hal yang wajib kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce dan strategi memanfaatkan alokasi waktu ujian, kamu juga perlu mengeksplorasi hal-hal berikut:

Continue reading

Strategi Memanfaatkan Alokasi Waktu Ujian Leapforce Secara Efektif dan Efisien

time-371226_1920

A: Tul bisa reschedule ga sih?

B: Bisa kok, ada di poin ke empat email notifikasi kalo mau reschedule.

A: Iya, soalnya gw ga bisa tanggal segitu, tapi gw penasaran banget, pengen cepet cepet tahu gw lolos apa ga.

Ada dua hal yang perlu dihindari saat mengikuti ujian Leapforce:

1). Buru-buru

Seperti yang saya jelaskan di postingan 6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce! bahwa alokasi waktu ujian yang diberikan adalah sekitar 7 hari. Jika kamu terlalu terburu-buru karena penasaran lulus atau tidaknya, kamu bisa saja ujian di hari pertama atau kedua, dan jangan kaget ketika kamu melihat hasilnya bahwa kamu tidak lulus ujian kualifikasi.

2). Terlalu santai

Karena melihat guideline yang isinya 146 halaman, berbahasa Inggris dan materinya baru semua, kamu akan merasa hopeless dan perlu berjuang lebih lama. Kayaknya, mau baca-baca dulu deh, ujiannya nanti aja pas deadline. Nah lho, ujiannya ada tiga tahap, kalo kamu mengerjakan semua ujian itu dalam satu hari, bukan cuma stress tapi kamu juga akan mabok.

Terus, baiknya gimana?

Continue reading