Advertisements

Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?

binoculars-1209011_640

Beberapa hari terakhir, saya menanyakan satu persatu teman-teman saya yang telah mendaftar Leapforce. Bagaimana dengan progress mereka, bagaimana dengan hasil ujiannya, apakah ada kabar bahagia?

Ternyata hampir semuanya menjawab dengan kompak, belum. Ya saya yakin, belum bukan berarti tidak akan ada kabar bahagia, hanya saja kabar bahagia itu sedang ditunda sampai tiba waktu yang tepat.

Saya pun tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian menanyakan, apa yang kira-kira membuat mereka gagal ujian. Hal ini saya lakukan untuk menarik asumsi, apa yang kurang dari strategi mereka tersebut.

Perlu diketahui, saya menulis pengalaman saya bekerja di Leapforce bukan karena promosi, affiliate marketing atau semacamnya. Tapi saya ingin mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja online. Lumayan lho bisa untuk jajan, bahkan kalo rajin mungkin bisa beli berlian, agak lebay sih.

Setelah tanya kesana kemari, sepertinya asumsi terkuat saya terkait penyebab terbesar mengapa banyak pendaftar yang gagal ujian Leapforce adalah ‘kurang kepo.’

Ini kan mau kerja bukan mau gosip kenapa harus kepo?

Tidak selamanya kepo itu diartikan negatif. Saat bekerja sebagai Search Engine Evaluator, kamu justru dituntut untuk memiliki insting kepo tingkat tinggi. Insting kepo inilah yang akan membuat kamu lebih memahami cara kerja Leapforce.

Mengapa saya menyebutnya kurang kepo? Karena biasanya, banyak pendaftar yang kurang mengeksplorasi sedetail-detailnya tentang Leapforce dan ujian kualifikasinya pada saat mengikuti ujian.

Selain mengetahui 6 hal yang wajib kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce dan strategi memanfaatkan alokasi waktu ujian, kamu juga perlu mengeksplorasi hal-hal berikut:

Continue reading

Advertisements

Strategi Memanfaatkan Alokasi Waktu Ujian Leapforce Secara Efektif dan Efisien

time-371226_1920

A: Tul bisa reschedule ga sih?

B: Bisa kok, ada di poin ke empat email notifikasi kalo mau reschedule.

A: Iya, soalnya gw ga bisa tanggal segitu, tapi gw penasaran banget, pengen cepet cepet tahu gw lolos apa ga.

Ada dua hal yang perlu dihindari saat mengikuti ujian Leapforce:

1). Buru-buru

Seperti yang saya jelaskan di postingan 6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce! bahwa alokasi waktu ujian yang diberikan adalah sekitar 7 hari. Jika kamu terlalu terburu-buru karena penasaran lulus atau tidaknya, kamu bisa saja ujian di hari pertama atau kedua, dan jangan kaget ketika kamu melihat hasilnya bahwa kamu tidak lulus ujian kualifikasi.

2). Terlalu santai

Karena melihat guideline yang isinya 146 halaman, berbahasa Inggris dan materinya baru semua, kamu akan merasa hopeless dan perlu berjuang lebih lama. Kayaknya, mau baca-baca dulu deh, ujiannya nanti aja pas deadline. Nah lho, ujiannya ada tiga tahap, kalo kamu mengerjakan semua ujian itu dalam satu hari, bukan cuma stress tapi kamu juga akan mabok.

Terus, baiknya gimana?

Continue reading

6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce!

young-791849_1920

A: Eh gimana udah jadi daftar Leapforce?

B: Udah ka, udah dapet jadwal ujiannya malah.

A: Syukurlah, kapan jadwalnya?

B: Tanggal 9 – 16 Juni ka.

A: Terus rencana kamu ujian kapan?

B: Kekna tanggal 15 Juni ka, soalnya tanggal 16 Juninya aku ada acara.

A: Haaa tanggal 15? *gue syok dan hampir pingsan.

Waah… kekna ada bagian yang kamu belum paham nih!

Mungkin setelah kamu membaca postingan saya sebelumnya, Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan, kamu begitu tertarik dan dengan sangat gesit  langsung menuju website Leapforce untuk mendaftar. Bahkan kamu tidak tanggung-tanggung mendaftar ke semua perusahaan yang menawarkan kerja online seperti Appen, Lionbridge dan iSoftStone. Bolehkah mendaftar Leapforce, Lionbridge, dan Appen secara bersamaan?

Sebelum kamu mendaftar Leapforce akan lebih baik jika kamu cari tahu sebanyak-banyaknya agar kamu memahami bagaimana proses kualifikasi menjadi search engine evaluator di Leapforce. Berikut saya akan share beberapa hal yang harus kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce, dengan begitu kamu akan lebih siap dengan proses kualifikasi selanjutnya.

Continue reading

Bolehkah Mendaftar Leapforce, Lionbridge, dan Appen Secara Bersamaan?

Untitled-1

Jika ditanya, boleh tidak mendaftar sekaligus ke ketiga perusahaan yang menawarkan kerja online tersebut, tentu saja jawabannya boleh banget, tapiii….

Setelah saya memposting pengalaman saya bekerja secara online sebagai Search Engine Evaluator, Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan, beberapa teman saya ada yang menanyakan, ‘Apakah boleh mendaftar Leapforce, Lionbridge dan Appen sekaligus?’

Secara umum, boleh-boleh saja kamu mendaftar ke semua perusahaan penyedia kerja online tersebut sekaligus. Itung-itung memperbesar peluang, dimana kamu keterima disitu kamu bisa kerja, ya kan?

Sayangnya, kamu perlu ingat bahwa dalam dunia rater dan kerja online, perusahaan cenderung untuk tidak merekrut orang yang sama dalam perusahaan yang berbeda untuk mengerjakan project pekerjaan yang sama, nah lho maksudnya gimana tuh?

Continue reading

Leapforce, Peluang Kerja Online Professional yang Menggiurkan

entrepreneur-593371_1920

A: “Atul sibuk apa sekarang?”

B: “Kerja online ka.”

A: “Oh, jualan apa?”

Ini adalah percakapan saya dengan teman saya beberapa hari yang lalu, sewaktu saya membantu sebuah project di kampus. Project ini tidak lama, hanya tiga hari, maka dari itu saya menyanggupi untuk ikut bergabung.

Saya resign dari kantor akhir Desember 2015. Meskipun saya sudah memulai untuk bekerja online sejak Agustus 2015, tetap saja, jika saya bertemu dengan kawan lama atau teman sekantor dulu, semuanya bertanya. Atul Sibuk apa?

Ya meskipun saya tidak sibuk-sibuk amat, yang jelas saya masih punya kesibukan. Kerja online. Namun jika kesibukan ini yang saya sebut, jawaban seperti diatas lah yang akan saya dapatkan. Tidak hanya sekali dua kali, tapi sering.

Di Indonesia, atau lebih sempitnya Jakarta, Depok dan sekitarnya. Kerja online mungkin memang sudah identik dengan jualan online. Meskipun kata-kata yang digunakan berbeda, banyak orang menganggapnya kurang lebih sama.

Semenjak sosial media booming sebagai sarana yang cukup efektif untuk berjualan, hampir sebagian besar isi timeline saya adalah orang jualan. Mungkin inilah yang membuat orang-orang berpikiran, bahwa kerja online adalah jualan online.

Banyak diantara kita yang belum paham benar, bahwa diluar sana banyak sekali kesempatan bekerja online secara professional. Pantas saja, pada tahun 2014 sempat trending berita soal Arfi dan Arie, lulusan SMK yang ahli design engineering international karena dikira memelihara tuyul, pekerjaan tidak jelas namun berpenghasilan luar biasa. Kedua anak itu memanfaatkan internet dan freelance website untuk menjaring klien yang akhirnya memesan design dan memberikan honor (upah) kepada mereka.

Nah, ngomong-ngomong soal kerja online, apakah kamu juga sedang mencari pekerjaan sampingan, kerja online, atau kerja apa pun yang bisa kamu kerjakan di rumah? Jika iya, maka artikel ini tepat buat kamu.

Continue reading