Advertisements

Curhat Kerja Online 3: 2 Tahun Bersama Leapforce, and Still Counting!

Happy 2nd anniversary to me and Leapforce! 2 tahun sudah berlalu and still welcoming more memories to come. Bulan Mei 2018 ini, tepat saya 2 tahun bekerja di Leapforce dan akhir April 2018 lalu, alhamdulillah contract saya diperpanjang. Yayy!

Pengalaman lika liku kerja online

Ga kerasa, 2 tahun berjalan begitu cepat. Jadi keinget pas awal-awal kerja online.

Mei 2016 lalu saya mulai bekerja di Leapforce sebagai search engine evaluator. Kurang lebih satu bulan setelah kontrak saya di terminate dari Social Media Evaluator Appen untuk project Facebook.

Termination? hmmm disappointed but not surprised. Sepertinya udah jadi hal yang biasa dan harus siap kamu alami, kalo kamu kerja online. Termination bisa datang kapan pun tanpa permisi.

Ok lah, ini saatnya saya curhat pengalaman kerja online saya mulai dari awal

Continue reading

Advertisements

6 Sisi Gelap Rater yang Belum Kamu Ketahui

girl-1857703_1920

“Mba Kalo ada task kasih tahu ya, udah jam 12 malem soalnya?” tiba-tiba ada pop up chat di FB saya

“Lho ga dapet task mba? ini ada task dari tadi jam 11.58, ada 3 di index”

“Waduh Saya ga dapet”

“Coba di refresh Mba”

“Duh, kena bot nih kekna”

Malam ini adalah malam keramat bagi kita para rater Search Engine Evaluator.

Kita tidak mengenal malam keramat di hari Jumat, melainkan di hari Senin malam.

“Haa? Ada malam keramat? gimana itu maksudnya? query hantu?”

Query hantu mah bukan keramat lagi, tapi emang udah jadi makanan sehari-hari wkwkwkwk

Tapi ini beda…

Ok, nanti akan saya bahas satu persatu, sekalian saya mau ngasih tahu 5 sisi gelap rater yang mungkin belum kamu ketahui. Jadi kalo nanti kamu apply dan diterima sebagai rater, kamu harus siap dengan konsekuensi seperti ini.

Continue reading

Curhatan Search Engine Evaluator: Kejutan Horror Query!

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Indonesia wilayah Depok. Kosan sudah mulai sepi. Sepertinya, anak-anak kosan juga sudah pada tidur. Apalagi ini bulan puasa, harus tidur cepet supaya bisa bangun buat sahur.

Tapi beda dengan saya, jam segitu saya masih melek. Melek serius malah, pasalnya saya masih mantengin task dari Leapforce yang lagi banyak-banyaknya. Sayang dong kalo ga dikerjain. Dalam dunia rater search engine, waktu saat task lagi ada itu sangat berharga, karena sistemnya first-come, first-served.

Sebenarnya, saya sudah mulai mengerjakan dari jam 10 malam. Biasanya saya berhenti pukul 12 malam, lanjut tidur, kemudian bangun jam 3 atau 4 pagi. Tapi karena lagi tanggung yaudah saya terusin sampai task itu selesai.

Kalau inget kejadian itu, rasanya saya pengen cepet-cepet nutup laptop dan buru-buru nutupin muka saya pake bantal. Maaf ya, maklum saya orangnya parno-an kalau ngomongin hal yang berbau mistis. (Tengok kanan kiri)

Saat itu, saya sedang asyik-asyiknya ngerating, mengingat pekerjaan saya sebagai seorang rater. Setelah klik submit, maka muncul task baru.

Mungkin karena saat itu saya juga sudah mulai mengantuk, jadi agak buram-buram gimana gitu, ga gitu jelas query atau keyword nya apa. Begitu langsung scroll…

Deggggg…..!

Continue reading

Mengapa Banyak yang Gagal Ujian Kualifikasi Leapforce?

binoculars-1209011_640

Beberapa hari terakhir, saya menanyakan satu persatu teman-teman saya yang telah mendaftar Leapforce. Bagaimana dengan progress mereka, bagaimana dengan hasil ujiannya, apakah ada kabar bahagia?

Ternyata hampir semuanya menjawab dengan kompak, belum. Ya saya yakin, belum bukan berarti tidak akan ada kabar bahagia, hanya saja kabar bahagia itu sedang ditunda sampai tiba waktu yang tepat.

Saya pun tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian menanyakan, apa yang kira-kira membuat mereka gagal ujian. Hal ini saya lakukan untuk menarik asumsi, apa yang kurang dari strategi mereka tersebut.

Perlu diketahui, saya menulis pengalaman saya bekerja di Leapforce bukan karena promosi, affiliate marketing atau semacamnya. Tapi saya ingin mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan bekerja online. Lumayan lho bisa untuk jajan, bahkan kalo rajin mungkin bisa beli berlian, agak lebay sih.

Setelah tanya kesana kemari, sepertinya asumsi terkuat saya terkait penyebab terbesar mengapa banyak pendaftar yang gagal ujian Leapforce adalah ‘kurang kepo.’

Ini kan mau kerja bukan mau gosip kenapa harus kepo?

Tidak selamanya kepo itu diartikan negatif. Saat bekerja sebagai Search Engine Evaluator, kamu justru dituntut untuk memiliki insting kepo tingkat tinggi. Insting kepo inilah yang akan membuat kamu lebih memahami cara kerja Leapforce.

Mengapa saya menyebutnya kurang kepo? Karena biasanya, banyak pendaftar yang kurang mengeksplorasi sedetail-detailnya tentang Leapforce dan ujian kualifikasinya pada saat mengikuti ujian.

Selain mengetahui 6 hal yang wajib kamu ketahui sebelum mendaftar Leapforce dan strategi memanfaatkan alokasi waktu ujian, kamu juga perlu mengeksplorasi hal-hal berikut:

Continue reading

Strategi Memanfaatkan Alokasi Waktu Ujian Leapforce Secara Efektif dan Efisien

time-371226_1920

A: Tul bisa reschedule ga sih?

B: Bisa kok, ada di poin ke empat email notifikasi kalo mau reschedule.

A: Iya, soalnya gw ga bisa tanggal segitu, tapi gw penasaran banget, pengen cepet cepet tahu gw lolos apa ga.

Ada dua hal yang perlu dihindari saat mengikuti ujian Leapforce:

1). Buru-buru

Seperti yang saya jelaskan di postingan 6 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Mendaftar Leapforce! bahwa alokasi waktu ujian yang diberikan adalah sekitar 7 hari. Jika kamu terlalu terburu-buru karena penasaran lulus atau tidaknya, kamu bisa saja ujian di hari pertama atau kedua, dan jangan kaget ketika kamu melihat hasilnya bahwa kamu tidak lulus ujian kualifikasi.

2). Terlalu santai

Karena melihat guideline yang isinya 146 halaman, berbahasa Inggris dan materinya baru semua, kamu akan merasa hopeless dan perlu berjuang lebih lama. Kayaknya, mau baca-baca dulu deh, ujiannya nanti aja pas deadline. Nah lho, ujiannya ada tiga tahap, kalo kamu mengerjakan semua ujian itu dalam satu hari, bukan cuma stress tapi kamu juga akan mabok.

Terus, baiknya gimana?

Continue reading